Lulusan SMK lebih banyak nganggur????
Apa yang digembar-gemborkan instansi pendidikan bahwa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan(SMK)
merupakan tenaga siap pakai yang mudah terserap kerja,ternyata keliru sama sekali. Para lulusan SMK justru terbanyak menjadi pengangguran.
Berdasarkan data terakhir BPS(Badan Pusat Statistik)Jatim menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka(TPT)yang berasal dari lulusan SMK merupakan tertinggi di Provinsi Jatim.Yang tidak disangka pengangguran dari lulusan SMU justru lebih kecil dibandingkan jumlah pengangguran lulusan SMK. Menurut Kepala Statistik Kependudukan Bidang Statistik Sosial,BPS Jatim. Kadarwati,data tersebut adalah hasil survei dari BPS per Agustus.
Disebutkan bahwa pengangguran lulusan SMK di Jatim mencapai 16,94%, kemudian SMA 12,99%, Universitas 10,83% , diploma(I/II/III) 10,42%, SMP 7,71% , SD 2,86%. Sementara pengangguran secar keseluruhan di Jatim sebesar 6,42%, atau sebanyak 1,3 juta orang dari 20,18 juta angkatan kerja.
“Mengamati penganggur berdasarkan karakteristik pendidikan,memberikan gambaran bahwa tingkat maupun jenis pendidikan tidak selalu berhubungan dengan kesempatan kerjayang didapat.”ujar Kridawati.
Sesuai dat yang dihimpun dari BPS justru angkatan kerja dengan lulusan SD lebih banyak terserap oleh lapangan kerja.”Hal ini karena ketersediaan lapangan pekerjaan di Jatim didominasi oleh sektor informal,misalnya dibidang pertanian dan perdagangan .Lulusan SD lebih fleksibel dalam menerima pekerjaan.”
Meski merupakan tertinggi,bagaimanapun tingkat pengangguran lulusan SMK diJatim sudah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2007. Saat itu TPT lulusan SMK tercatat 21,74%. Penurunan TPT ini seiring dengan turunya jumlah total pengangguran di Jatim, yakni dari 1,37 juta orang per Agustus 2007 menjadi 1,3 juta per Agustus 2008.
Direktur Pembinaan SMK Dirjen Manajemen Pendidikan Nasional(Depdiknas), Dr. Joko Sutrisno meragukan hasil data BPS yang menyebutkan angka pengangguran dari lulusan SMK tertinggi.
Menurt Joko ,apa yang dia yakini adalah sebaliknya. Yakni justru angka keterserapan lulusan SMK di pasar kerja tergolong tinggi. sayangnya setelah ditanya lebih lanjut Joko tidak dapat menyodorkan bukti Konkrit.
“Saya meragukan angka itu,saya kira jika dibandingkan lulusan SMU yang terserap lapangan kerja , seharusnya jumlah pengangguran lulusan SMK jauh lebih kecil.”ujar Joko.
Joko meyakini, hampir 50% lulusan SMK dari tahun ajaran 2007/2008 langsung terserap ke perusahaan-perusahaan , atau setidaknya 1 hingga 2 bulan setelah kelulusan.Ia memperkirakan , 70% dari lulusan Smk terserap segera oleh dunia kerja dan hanya 20% saja melanjutkan ke Perguruan Tinggi sedangkan 10% lainnya bisa jadi berwiraswasta atau belum mendapatkan pekerjaan.
Sumber:Koran Surya(kamis,8/1)
Nah guys menurut pendapat kalian gimana tentang hal yang satu ini????
diatas disebutkan bahwa lulusan SD lebih banyak terserap kerja padahal pemerintah mencanangkanwajib belajar 12 tahun,setelah itu pemerintah juga menjerumuskan agar siswa-siswi setelah lulus SMP masuk ke SMK padahl tempat lapangan pekerja di Indonesia makin sempit????di comment yacH…….





Wah darimana itu pendapatnya lulusan SD langsung bisa terserap menjadi tenaga kerja..???
Yang ada kan mereka melanjutkan ke jenjang SMP kan, jadi yang tidak nganggur dan ga kerja..
Dan kalau memang bisa terserap kerja apa dia bisa bertahan dan sejahtera..???Yang ada malah hanya akan menjadi tenaga kasar, kuli misalnya..
Tentu saja saya mendukung program pendidikan 12 tahun, jadi meskipun tidak bisa bekerja paling tidak dengan bekal sekolah 12 tahun itu bisa menciptakan lapangan kerja sendiri..
Nah inilah pendapat saya he he he..
Let’s open our mind to get the most effective problem solving…
Salam dari bocahbancar..Cah ndeso yang berjuang di tengah keramaian kota..
nganggur gapapa yang penting masih punya harga diri
piss..
salam kenal aja.
Salam kenal
Yang jelas adanya SMK memang ditujukan untuk mengurangi tingkat pengangguran dari kaum intelek di Indonesia. SMK diharapkan menjadi tenaga yang siap pakai. Tapi tentu saja itu memang berproses. banyak faktor yang harus dipenuhi untuk menciptakan lulusan SMK yang berkualitas. Diantaranya fasilitas dan SDM pengajar yang berkualitas.
Kalau memang SMK lebih banyak menganggur, kita juga harus melihat orientasi lulusan SMK setelah lulus. Kebanyakan lulusan SMK memang memang lebih memilih untuk bekerja daripada melanjutkan studi, berbeda dengan lulusan SMA yang harus melanjutkan studi sebagai pendalaman materi yang didapat dari bangku sekolah menengah. Tapi jika kita melihat faktor skill dan kompetensi yang dibutuhkan dalam persaingan dunia kerja, jelas lulusan SMK lebih unggul.
Semoga di lain waktu bisa lebih banyak berdiskusi.